UI Riset MBG di 5 SD Jakarta, Temuannya Mengejutkan
Jakarta — Peneliti dari Universitas Indonesia (UI) melakukan studi tentang pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lima sekolah dasar (SD) di wilayah Jakarta. Penelitian ini dilakukan sebagai respons terhadap berbagai kontroversi terkait efektivitas dan pelaksanaan MBG, termasuk laporan soal keracunan makanan dan kualitas menu yang dipenuhi gizi rendah.
Penelitian yang berlangsung dari Juni sampai September 2025 ini melibatkan SD di Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Tim peneliti ini berasal dari Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Politik UI, dan hasilnya memperlihatkan sejumlah hal mengejutkan mengenai tata kelola waktu pengantaran, peran orang tua, serta kebiasaan konsumsi siswa terhadap paket MBG.
⏰ Waktu Pengantaran MBG Tidak Ideal
Salah satu temuan awal adalah bahwa waktu pengantaran makanan tidak sesuai dengan jam istirahat sekolah. Di beberapa sekolah, makanan MBG datang terlalu pagi sekitar pukul 04.00—05.00 WIB, sehingga makanan menjadi dingin sebelum dinikmati siswa. Di lain pihak, ada kasus makanan tiba pukul 09.30 WIB, hampir memasuki jam belajar berikutnya. Situasi ini menunjukkan kurangnya koordinasi distribusi dengan jadwal sekolah.
🤝 Peran Orang Tua dalam Pembagian
Penelitian juga mencatat bahwa orang tua murid turut terlibat dalam proses pembagian paket MBG di beberapa sekolah. Mereka tidak hanya membantu menghitung dan membagikan “ompreng” (wadah makanan) ke kelas, tetapi juga mengumpulkannya kembali setelah makan. Keterlibatan ini muncul karena ruang kelas yang berada di lantai bertingkat, di mana guru sendirian dinilai kurang efektif untuk membagikan paket makanan tersebut.
Baca Juga: Trailer Mortal Kombat 2 Tayang: Johnny Cage Dominasi, Cole Young Diduga Tewas
🍱 Hanya Sedikit Siswa yang Menghabiskan Makanannya
Temuan lain yang cukup mencolok adalah bahwa hanya sekitar 4–5 siswa per kelas yang benar-benar menghabiskan paket MBG. Ketika ditanya, siswa biasanya mengatakan mereka tidak lapar atau tidak menyukai menu yang disajikan. Anggota tim riset yang ikut mencicipi menu menyebut beberapa hidangan terasa hambar, yang tentu saja menurunkan minat siswa untuk menghabiskannya.
📌 Tantangan Pelaksanaan Program
Ketua peneliti menyatakan bahwa meskipun siswa merasa senang mendapatkan paket MBG, tingkat konsumsi yang rendah mengindikasikan bahwa penyampaian manfaat program belum optimal. Selain itu, beberapa sekolah juga tidak mengetahui alasan mereka terpilih sebagai lokasi pelaksanaan MBG. Akhirnya menimbulkan rasa kurang ‘memiliki’ terhadap program tersebut di kalangan guru dan staf sekolah.
🔍 Catatan Lain tentang MBG
MBG sendiri merupakan program pemerintah untuk menyediakan satu porsi makanan bergizi gratis setiap hari sekolah bagi sisw. Diharapkan bisa mendukung pemenuhan gizi anak secara keseluruhan dan meningkatkan partisipasi belajar. Namun di luar temuan UI, beberapa studi sebelumnya menunjukkan tantangan besar pada perencanaan, keamanan pangan, dan implementasi program ini di berbagai daerah.



